Submitted by admin on Sun, 06/13/2021 - 10:40

Terdapat dua keadaan ilmu:

Pertama; keadaan iman. Tidak dikatakan seseorang beriman kecuali dia mengimani pada yang ghaib. Orang yang melihat pada yang tampak tidak bisa disebut mukmin tetapi disebut dengan pembenar dengan sesuatu yang ghaib.

Kedua; keadaan yang tampak dalam pandangan mata atau bashirah, yaitu suatu kondisi ketenangan.

Dalam rangka mencapai ketenangan ini tidak bisa diraih kecuali dengan mencapai terlebih dahulu kondisi pertama, yaitu penerimaan hati pada ujian takdir dan syariat-syariat sampaipun jiwa tidak menyukainya atau tidak memahaminya. Kesimpulan ini diambil dari hadits sebab turunnya akhir surat Al-Baqarah yaitu:

“Tatkala turun pada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam ayat:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 284)

Para sahabat menemui Rasulullah shalallahu alaihi wassalam kemudian mereka menderumkan kendaraannya. Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, kami dibebani dengan amalan-amalan yang tidak kami mampui, shalat, puasa, jihad dan sedekah. Padahal telah turun padamu ayat ini dan kami masih tetap tidak mampu.’ Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: ‘Apakah kalian ingin berkata seperti yang dikatakan oleh ahlul kitab sebelum kalian? Kami mendengar dan kami menyelisihi. Tapi katakanlah: Kami mendengar dan taat, kami memohon ampunan-Mu Rabb kami, dan kepada-Mu kami kembali.’ Lalu sahabat berkata: ‘Kami mendengar dan taat, kami memohon ampunan-Mu Rabb kami, dan kepada-Mu kami kembali.’ Maka ketika kaum membacanya lisan-lisan mereka menjadi lembut. Lalu turunlah ayat:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

‘Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya’, dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami taat’. (Mereka berdoa): ‘Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.’ (Al-Baqarah: 285)

Kemudian ketika mereka melaksanakannya, Allah menghapusnya dengan menurunkan firman-Nya:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.’ (Al-Baqarah: 286)

Nabi bersabda: ‘Iya.’

رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا

‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.’

Nabi bersabda: ‘Iya.’

رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ

‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.’

Nabi bersabda: ‘Iya.’

وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

‘Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’.

Nabi bersabda: ‘Iya.’” (Shahih Muslim)