Submitted by admin on Thu, 06/17/2021 - 00:48

Orang yang berakal akan menemukan kelapangan dada setelah dia mengikuti al-haq dan sabar atasnya. Kenikmatan kadang akan ditemui di awal perjalanan dan kadang ditemui setelah berlalunya perjalanan. Seperti kenikmatan kekuatan. Allah telah menganugerahkan sebuah kekuatan pada ibu yang melahirkan tanpa kerja keras dari usahanya sendiri. Kadang kenikmatan tersebut akan diperoleh setelah sekian lama dalam ujian.

Perbedaan waktu pada setiap orang menerima kenikmatan ini memiliki keutamaannya masing-masing. Sedangkan jika ditanyakan manakah yang paling utama? Maka jawabannya; siapa yang diberi kenikmatan di awal perjalanan dia harus segera meresponnya dengan rasa syukur, bila tidak hanya akan berubah penderitaan. Sedangkan yang menerimanya setelah dia merasakan kepenatan maka hasilnya adalah syukurnya.

Siapa yang hatinya dilapangkan menerima al-haq di awal perjalanan, hasil keutamaannya adalah diuji rasa syukurnya. Jika dia tidak bersyukur kelapangannya akan berbalik menjadi kesempitan lalu hilanglah keutamaanya. Sedangkan yang mendapatkan kelapangan setelah lamanya penderitaan sesungguhnya keutamaanya adalah hasilnya. Pada akhirnya pencapaian nikmat syukur diperoleh karena amal bukan dengan nikmat itu sendiri. Wallahu ‘alam.

Nikmat kelapangan dada merupakan pembuka seluruh nikmat. Tidak ada kenikmatan di semesta ini yang menjadi kebaikan bagi penerimanya kecuali harus diawali dengan kelapangan dada barulah yang lain mengikuti. Dia akan merasakan makna-makna kebahagiaan dalam batinnya dari kenikmatan yang dia rasakan secara zhahir dan juga batin. Betapa banyak orang yang mendapatkan kenikmatan padahal sesungguhnya dia merupakan orang yang paling menderita dengan kenikmatan tersebut atau karena hal lain. Dia tidak merasakan kenikmatan yang dia peroleh dan juga yang lainnya. Ini merupakan azab yang paling sakit seperti firman Allah ta’ala:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (Thaha: 124)

Lapang dada pada makna-makna akan menjadi nikmat jika makna-makna itu terwujud. Kelapangan dada atas nikmat zhahir tidak akan didapatkan kenikmatan yang sesungguhnya kecuali dengan kelapangan dada ini, jika tidak maka dia menjadi sempit dadanya lalu kehilangan rasa kenikmatan tersebut.