Submitted by admin on Tue, 09/28/2021 - 13:30

Allah ta’ala berfirman:

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (Asy-Syarah: 4)

Telah maklum, manusia memerlukan dua kebutuhan primer untuk akhiratnya. Kebutuhan tersebut merupakan keperluan yang harus dituntut, bukan kebutuhan yang seseorang bisa memilihnya. Dua kebutuhan primer tersebut yaitu:

  • Ta’abud wal khudu’ (peribadatan dan ketundukan)
  • Mengambil contoh dan menauladani uswah.

Kebutuhan pertama berdiri di atas landasan la ilaha illallah sedengan kebutuhan kedua berdiri di atas landasan Muhammad Rasulullah.

Ketika awal-awal penciptaan makhluk, ujian yang terjadi pada mereka adalah sikap penentangan dan menyombongkan diri. Allah ta’ala menyebutnya dalam firman-Nya mengenai Iblis:

إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ

“Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 34)

Sikap penentangan merupakan tindakan menanggalkan ketundukan dihadapan Allah, sedangkan menyombongkan diri merupakan tindakan meninggalkan sikap mengambil contoh tauladan. Orang-orang kafir telah menolak untuk menauladani para Nabi, kata mereka:

وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَرًا مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ

“Dan sungguh, jika kamu menaati manusia seperti kamu, niscaya kamu pasti rugi.” (Al-Mukminun: 34)

Dari penjelasan ini dimengerti, tujuan agama Islam yaitu mewujudkan dua hal; ibadah dan mengambil contoh. Sedangkan ketentuan Allah dengan memilih beberapa hamba-Nya untuk menjadi Nabi lalu mengujinya dalam kawah keimanan ketika berdakwah kepada kaumnya bertujuan untuk mengangkat derajat mereka. Allah berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

“Dan Rabbmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki.” (Al-Qoshos: 68)

Dengan ujian keimanan yang ditempuh para Nabi itu, membuat kepemimpinan dan ketauladanan mereka menjadi syarat kedua bagi siapa saja yang ingin masuk janah dan menerima ridha Allah ta’ala. Syarat pertama manusia yang ingin masuk janah adalah mentauhidkan Allah, sedang syarat kedua mengikuti dan mencontoh Rasul. Syarat kedua ini merupakan keagungan dan ketinggian para nabi yang tidak dapat dilampaui oleh manusia lainnya.

Mereka dipilih menjadi nabi karena sebab yang merupakan ilmu Allah ta’ala yang mengetahui hati mereka. Serta bekal perangkat-perangkat yang diberikan dari iradah-iradah dan kemampuan untuk mewujudkan seleksi dan pemilihan ini. Sehingga mencela nubuwah artinya mencela dzat yang yang memiliki keputusan untuk memilih mereka sebagai nabi dan menolak hikmah Allah dalam pemilihan ini.

Nubuwah tidak diperoleh dengan usaha tetapi karena adanya sebab dari takdir-takdir Allah pada Nabi terpilih tersebut. Didalamnya terdapat derajat-derjat khusus yang agung dan yang paling tinggi adalah kekhususan dalam ilmu dan amal. Inilah yang dimaksudkan oleh Imam Ibnu Hiban Al-Busti dengan perkataanya; النبوة علم وعمل (Nubuwah adalah ilmu dan amal).

Yaitu kekhususan nubuwah setelah terjadinya pemilihan dengan mendapatkan ilmu yang tidak bisa dicapai oleh pengikutnya dan amal yang tidak bisa dilampaui oleh pengikutnya.