Submitted by admin on Fri, 09/24/2021 - 12:52

Inilah Yunus ‘alaihissalam mendapatkan keutamaan setelah taubat seperti firman Allah ta’ala:

لَوْلَا أَنْ تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِنْ رَبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ﴿٤٩﴾ فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ﴿٥٠﴾

“49. Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. 50. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.” (Nun: 49-50)

Bahkan lebih dari itu, yang diisyaratkan oleh Al-Quran adalah dia akan merasakan kedekatan pada Allah setelah taubat dari dosa. Agar dia mencapai maksud dari tujuan-tujuan dan kedudukan-kedudukan mulia seperti yang dialami oleh Sulaiman ‘alaihissalam:

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَىٰ كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ ﴿٣٤﴾ قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ﴿٣٥﴾

“34. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat. 35. Ia berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Shod: 34-35)

Keadaan tersebut terjadi tatkala hamba mengenali bahwa sesungguhnya hidayah taufiq untuk taubat itu merupakan kedudukan yang dicintai Allah ta’ala, merupakan pilihan Allah padanya. Yaitu Allah menempatkannya pada kedudukan taubat yang Allah cintai dan Allah memanggilnya untuk terus memperbaiki kedudukannya sehinga terus naik. Dia akan merasakan tiupan ilahiyah yang mulia ini.

Keadaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang terus menerus dalam kedudukan ini, yaitu kedudukan taubat merupakan perwujudan dari firman-Nya ta’ala:

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى

“Dan kelak Rabbmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi ridha.” (Adh-Dhuha: 5)

Allah senantiasa bershalawat atas Nabi kita setiap umatnya menyebut namanya. Telah lalai siapa yang tidak bershalawat ketika namanya disebut. Shalawat padanya di awal dan diakhir. Orang yang utama dan bersih hatinya adalah yang senantiasa bershalawat pada Nabinya.

Semoga Allah menyucikan hati kita dan kalian dengan bershalawat padanya. Semoga salam, rahmat dan berkah Allah atas kalian. Semoga Allah membalas kebaikan Nabi kita atas amanat risalah yang ia tunaikan pada kita, seperti dikatakan oleh Imam ahlus sunah dan fiqih muhammad bin Idris Asy-Syafii dalam kitabnya Ar-Risalah (Ar-Risalah: 107-108)

Sedang kedudukan bagi pengikutnya untuk mencapai kedekatan pada kedudukan yang agung ini yaitu dengan cara konsisten beristighfar sampai dia mencapai apa yang disabdakan shalallahu ‘alaihi wassalam:

إنَّ عَبْدًا أصابَ ذَنْبًا - ورُبَّما قالَ أذْنَبَ ذَنْبًا - فقالَ: رَبِّ أذْنَبْتُ - ورُبَّما قالَ: أصَبْتُ - فاغْفِرْ لِي، فقالَ رَبُّهُ: أعَلِمَ عَبْدِي أنَّ له رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ ويَأْخُذُ بهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي، ثُمَّ مَكَثَ ما شاءَ اللَّهُ ثُمَّ أصابَ ذَنْبًا، أوْ أذْنَبَ ذَنْبًا، فقالَ: رَبِّ أذْنَبْتُ - أوْ أصَبْتُ - آخَرَ، فاغْفِرْهُ؟ فقالَ: أعَلِمَ عَبْدِي أنَّ له رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ ويَأْخُذُ بهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي، ثُمَّ مَكَثَ ما شاءَ اللَّهُ، ثُمَّ أذْنَبَ ذَنْبًا، ورُبَّما قالَ: أصابَ ذَنْبًا، قالَ: قالَ: رَبِّ أصَبْتُ - أوْ قالَ أذْنَبْتُ - آخَرَ، فاغْفِرْهُ لِي، فقالَ: أعَلِمَ عَبْدِي أنَّ له رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ ويَأْخُذُ بهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثَلاثًا، فَلْيَعْمَلْ ما شاءَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang terjerumus dalam perbuatan dosa – atau beliau bersabda; melakukan dosa - lalu ia berdoa, ‘Wahai Rabbku, aku telah melakukan dosa – atau beliau bersabdaa; aku telah jatuh dalam dosa -, maka ampunilah aku.’ Rabbnya menjawab, ‘Apakah hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb Yang Maha Mengampuni dosa dan akan menyiksa hamba-Nya? Ketahuilah, Aku telah mengampuninya.’ Kemudian ia berhenti melakukan dosa sesuai yang Allah kehendaki. Lalu ia terjerumus lagi ke dalam dosa atau melakukan perbuatan dosa. Lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku, aku melakukan dosa atau aku telah terjerumus dalam dosa lagi, maka ampunilah.’ Rabbnya menjawab, ‘Apakah hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb Yang Maha Mengampuni dosa dan akan menyiksa hamba-Nya? Ketahuilah, Aku telah mengampuninya.’ Kemudian ia berhenti melakukan dosa sesuai yang Allah kehendaki. Lalu ia terjerumus lagi ke dalam dosa atau melakukan perbuatan dosa. Lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku, aku melakukan dosa atau aku telah terjerumus dalam dosa lagi, maka ampunilah.’ Rabbnya menjawab, ‘Apakah hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb Yang Maha Mengampuni dosa dan akan menyiksa hamba-Nya? Ketahuilah, Aku telah mengampuninya.’ Allah mengulang firman-Nya tiga kali. Maka lakukanlah sekehendaknya.’”1

Firman-Nya subhanahu wa ta’ala dalam hadits tersebut:

فَلْيَعْمَلْ ما شاءَ

“Maka lakukanlah sekehendaknya”

Semakna dengan:

مغفرة ما تأخر

“Ampunan dosa yang belum dilakukan.”

Dalam hadits di atas juga mengandung beberapa keutamaan, yaitu Allah menjadikan sebagian kebaikan-kebaikan yang diberikan Allah pada Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassalam juga diberikan pada umatnya.

Merupakan nikmat Allah atas Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassalam, Dia mencegahnya melakukan perbuatan dosa sebelum diangkat sebagai Nabi. Orang-orang kafir tidak mampu mempengaruhi beliau jatuh dalam dosa, inilah perwujudan firman-Nya ta’ala:

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ ﴿٢﴾ الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ ﴿٣﴾

“2. Dan Kami telah meletakkan daripadamu bebanmu. 3. Yang memberatkan punggungmu?” (Al-Insyirah: 2-3)


  1. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Tags

Artikel Terkait