Submitted by admin on Mon, 06/14/2021 - 08:07

Kembali pada kondisi ketika pertama kali Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menerima wahyu, yaitu kecemasan beliau dari persoalan dan tidak mengertinya makna-makna ini membuatnya tidak tentram. Ditambah lagi kekhawatiran menghadapi penyikapan manusia seperti yang disampaikan oleh Waroqoh bin Nufail radhillahu anhu.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam waktu itu mengalami dua kondisi yaitu; kondisi penerimaan ilmu dan penerimaan pada takdir. Maka dengan lapang dada dapat menerima kedua kondisi tersebut. Dan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memperoleh penerimaan hati dengan perantara ilmu. Akhirnya menjadi suatu babak kehidupan yang baru.

Kemudian beliau mengerti hakikat maknanya, bahwa beliau dalam al-haq dan yang turun itu adalah nubuwah. Beliau juga memeroleh keyakinan bergabung bersama jalan nabi-nabi terdahulu yang kondisi beliau mirip dengan kondisi mereka. Apa yang akan beliau temui nanti juga telah dialami oleh para nabi sebelumnya. Maka terkumpul ridha hati dengan pengetahuan al-haq yang jelas.

Kehendak Allah pada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memberikan kesempurnaan kelapangan yang sangat lapang. Sehingga terkumpul pada beliau kehendak menggapai ridha Allah dengan ridha pada keputusan dan takdir yang merupakan kehendak Allah.