Submitted by admin on Fri, 09/24/2021 - 12:58

Sebab kesibukan dai untuk mempertahankan dirinya agar tidak jatuh dalam perbuatan dosa merupakan usaha yang melelahkan dan memenatkan dalam satu waktu dia harus berdakwah menyeru kebaikan. Kedudukan yang diperoleh Nabi dalam ayat ini mencegahnya melakukan istighfar pada dosa yang dilakukan (sebab beliau terjaga dari dosa), tetapi beliau melakukan istighfar diatas makna agung yang telah kami jelaskan. Cukup bagimu untuk memahami saat ada orang yang mengatakan pada Musa ‘alaihissalam:

أَتُرِيدُ أَنْ تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالْأَمْسِ إِنْ تُرِيدُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ جَبَّارًا فِي الْأَرْضِ وَمَا تُرِيدُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْمُصْلِحِينَ

"Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian". (Al-Qoshsoh: 19)

Sekarang kamu mengerti kedudukan yang telah Allah limpahkan nikmatnya pada Nabi umat ini yang diberi rahmat. Karena itulah firman-Nya ta’ala:

الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ

“Yang memberatkan punggungmu?” (Al-Insyirah: 2-3)

Ayat ini mengandung makna bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam terbebas dari dua perkara berikut:

  1. Dosa yang bisa menimpa seseorang dan akibat-akibatnya dengan jatuh dalam kegelapan bagi pelakunya.
  2. Begitu pula kelelahan jiwa dari menahan serangan propaganda orang yang memusuhi dakwahnya dengan menyebut-nyebut dosanya ketika ia berdakwah kepada Allah ta’ala.

Jadi Allah ta’ala telah membebaskan beliau dari kedua perkara ini di masa-masa awal bahkan sebelum diangkat menjadi Nabi dan mengampuni beliau sebelum melakukan dosa.

Dai kepada Allah dalam dakwahnya dan menegakkan syahadah pada makhluk akan merasakan rasa sakit penolakan manusia. Merasakan gejolak menghadapi tuduhan dan makar lawan-lawannya. Namun tidak seharusnya dia menjadikan perkara-perkara ini melebihi beban sakit atas perbuatan dosanya.

Karena itulah dalam perkara dosa, dia harus berusaha sekuat tenaga melawannya. Sudah selayaknyalah dia melakukan khalwat dengan istighfar, taubat dan inabah. Hendaknya dia menjadikan malamnya sebagai malam-malam wirid bermunajat pada Rabbnya dan berdoa seperti permohan Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu:

اللَّهُمَّ إنِّي ظَلَمْت نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا ، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلَّا أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِك وَارْحَمْنِي ، إنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah, Sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak. Tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmati aku. Sesungguhnya Engkau Dzat Maha pengampun lagi Penyayang.”

Dia juga harus membiasakan tenggelam dalam sujud lama sembari berdoa dengan doa yang dipanjatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ

“Maha Suci Engkau, ya Allah! Rabb kami, dan dengan memujiMu. Ya Allah! Ampunilah dosaku.”1

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam membaca doa tersebut dalam sujud setelah sebelumnya berdiri panjang membaca Al-Quran sebagaimana diriwayatkan oleh Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha. Aktivitas seperti inilah yang akan membuat dadanya lapang dan luas seperti sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ ثَلَاثَ عُقَدٍ إِذَا نَامَ بِكُلِّ عُقْدَةٍ يَضْرِبُ عَلَيْكَ لَيْلًا طَوِيلًا فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِذَا تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عَنْهُ عُقْدَتَانِ فَإِذَا صَلَّى انْحَلَّتْ الْعُقَدُ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

“Setan akan mengikat tengkuk salah seorang dari kalian saat ia tidur dengan tiga ikatan. Setiap ikatan ia akan membisikkan padamu bahwa malam masih panjang. Jika ia terbangun lalu berdzikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan, jika ia berwudlu maka lepaslah dua ikatan. Dan jika ia melanjutkan shalat, maka lepaslah seluruh ikatan itu, sehingga pada pagi harinya ia mulai dengan penuh kesemangatan dan jiwanya pun sehat. Namun jika tidak, maka dia akan memasuki waktu pagi dengan jiwa yang keji dan penuh kemalasan.”2

Sudah seharusnya dai memperbanyak istighfar memohon ampun antara dirinya dan Rabbnya serta memperbanyak wudhu. Sebab memperbanyak wudhu memiliki pengaruh mengangkat dosa dan melapangkan jiwa. Beberapa ahlul ilmi bahkan melakukan wudhu dalam semalam lebih dari satu kali dan mengatakan:

إنه يطيب نفسي

“Sesungguhnya wudhu itu memperindah jiwaku.”

Pencapaian tersebut merupakan rahasia kelapangan hati dengan menjalankan ketaatan, melepaskan diri dari maksiat, membiasakan istighfar, taubat dan membersihkan jiwa dari duri-duri dosa. Merupakan perbuatan tajdid imani (memperbarui iman) dalam kehidupan umat Islam. Jadi caranya bukan dengan yang dilalukan sebagian orang dengan berteriak-teriak atau menyakiti diri sendiri.


  1. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslm.

  2. Diriwayatkan oleh Muslim.

Artikel Terkait