Submitted by admin on Tue, 09/28/2021 - 13:37

Dalam perjalanan sejarah Islam, selalu muncul tokoh-tokoh yang dijadikan acuan contoh dan teladan. Tokoh-tokoh ini muncul dalam setiap tingkatan generasi. Inilah maksud sabda shallallahu 'alaihi wassalam :

في كل قرن من أمتي سابقون

“Dalam setiap generasi umatku terdapat dai-dai yang menyeru kepada Allah untuk melakukan tajdid/pembaharuan.” (Disebutkan oleh As-Suyuthi dalam Jami Al-Masanid wal Marasil. Dia berkata; dikeluarkan oleh Al-Hakim dan Abu Nu’aim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu)

Keberadaan dai-dai tajdid di setiap zaman merupakan hujah Allah bagi mereka disetiap generasi dan juga merupakan jawaban dari doa orang-orang shalih:

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74)

Keunggulan generasi dalam suatu zaman selaras dengan kadar keunggulan keilmuan dan ketakwaan dari para tokoh-tokoh tauladan tersebut. Setiap generasi yang mampu melakukan perubahan sejarah, akan ditemukan para imam penyeru petunjuk yang memiliki sifat keunggulan dan keistimewaan unik yang terikat erat dengan fase yang dibutuhkan pada zaman itu.

Setiap zaman memiliki ikatan dengan para tokoh-tokoh pemimpin dan tokoh-tokoh yang mampu mempengaruhinya. Tetapi perlu dipahami, bahwa perjalanan sejarah tidak tercipta hanya dari seorang tokoh, namun tercipta dari kesadaran kolektif yang menyertai kepahlawanan kesatria yang menawan tersebut.

Al-Quran tatakala memuji thaifah iman (kelompok iman) mengutamakan menyebut orang-orang yang memiliki keunggulan; dari nabi atau pengikut nabi. Demikian pula sebaliknya ketika menyebut kekafiran, Al-Quran menyebut dengan timbangan yang sama; yaitu mendahulukan menyebut orang dan pengikutnya dengan mengisahkan ekosistem dan perangkat pendukung dalam memerintah keburukan.

Pelaku individu yang memiliki keunggulan banyak disebutkan dalam Al-Quran yaitu ketika seorang mukmin memisahkan diri dari kelompok kebatilan seperti yang dilakukan oleh Ibrahim ‘alahissalam dari kaumnya, seorang keluarga Firaun dari istananya dan Ashabul Kahfi yang lari dari agama kaumnya. Individu-individu ini terpuji, tetapi mereka tidak mampu melakukan perubahan sejarah kecuali apabila didukung oleh lingkungan dan perangkat yang menyokong. Apabila tidak didukung oleh hal tersebut maka akan hilang menjadi syuhada seperti Ashabul Ukhdud.

Pemuliaan nama diperoleh dari salah satu dua jalan; Menjadi syuhada dengan menerima pemuliaan akhirat seperti firman Allah pada keluaga yasin:

قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَالَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ ۝ بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ

“Dikatakan (kepadanya): ‘Masuklah ke surga’. Ia berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui.۝Apa yang menyebabkan Rabbku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan’”. (Yasin: 26-27)

Atau menjadi panutan dan penerang bagi pengikutnya yang turut dalam dakwah dan jihadnya sehinga para pengikut dan murid-muridnya selalu mengenangnya di muka bumi.

Salah satu keistimewaan umat ini, tidak mungkin ada kekosongan tauladan di setiap generasi. Pasti dalam setiap tingkatan generasi muncul nama-nama mulia walaupun tidak menghasilkan perubahan yang besar dalam dakwah dan jihadnya. Namanya tetap akan dikenang dan selalu disebut sampai orang yang terakhir mereka mati sebelum hari kiamat. Bahkan bekas-bekas perkataannya tetap terpatri sepanjang zaman. Allah akan hidupkan kembali kalimat-kalimatnya pada tingkatan generasi lainnya yang jauh terpisah waktu dan tempat.

Siapa yang membaca kitab-kitab thabaqat ulama dan para orang mulia akan mengerti persoalan ini. Umat hari ini hidup diantara nama-nama para kesatria yang menemani keberlangsungan umat ini. Para pemuda mengulang-ulang perkataan mereka dan menceritakan kepahlawanan mereka seakan-akan mereka menyaksikannya. Semua itu merupakan anugerah Allah dengan mengangkat tinggi nama-nama mereka seperti sabda Nabi shallallahu 'alaihi wassalam :

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril dan berfirman; ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, oleh karena itu cintailah si fulan.’ Maka, Jibrilpun mencintai si fulan. Lalu, Jibril berseru ke penduduk langit; ‘sesungguhnya Allah mencintai fulan, oleh karena itu hendaklah kalian mencintai fulan.’ Maka, penduduk langit pun mencintai si fulan. Kemudian, diletakkan untuk si fulan tersebut penerimaan di muka bumi.” (Al-Bukhari)

 

Dan sabdanya shallallahu 'alaihi wassalam :

ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

“Kemudian, diletakkan untuk si fulan tersebut penerimaan di muka bumi.”

Maksudnya mereka penduduk bumi yang memiliki kemiripan sifat dengan penduduk langit dalam perkara ketaatan dan ibadah. Maksud penerimaan penduduk bumi dalam hadits bukan pada penerimaan semua hati manusia termasuk mereka yang kafir menentang ketaatan. Bahkan penolakan orang kafir tersebut justru menjadi tanda kebenaran para nabi seperti firman Allah ta’ala:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin.” (Al-An’am: 112)

Keterangan ini menguatkan apa yang telah kita sebutkan sebelumnya bahwa keberadaan lingkungan imaniyah yang mendukung orang-orang unggul dan pelaku perbaikan merupakan faktor penting dalam mewujudkan perubahan sejarah pada umat ini. Tetapi bila tidak ada elemen lingkungan tersebut maka orang-orang inti akan dituduh sebagaimana Qurays di Mekah menuduh Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam dengan tukang sihir, dukun dan orang gila. (Ma’rifatu Shahabah karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani 3/67)

Inilah makna bergabungnya ahlul ilmi yang beramal dengan amar maruf dan nahi mungkar dalam barisan para imam. Bila anda mengamati para pemimpin umat ini dalam adab, ibadah dan gerakan perubahan, anda akan memahami mengapa Allah membuka ruang ijtihad bagi mereka.

Sedangkan pendapat yang mengatakan; mencukupkan diri dengan perkataan orang-orang salaf terdahulu merupakan pendapat yang tidak benar. Sejatinya pendapat ini bermaksud mencegah masyarakat untuk mengikuti para pemimpin yang hidup bersama mereka.

Sebab itu wajib dalam setiap generasi umat selalu muncul ulama-ulama yang berkata dan menulis dengan perkataan ijtihad mereka untuk menafsirkan, menjelaskan dan berfatwa sesuai persoalan yang terjadi pada umat di zamannya agar mereka mencapai derajat imam bagi generasi mereka sendiri. Regenerasi itu selalu terjadi merupakan takdir dengan keutamaan dari Allah.

Meskipun generasi setelahnya melakukan berbagai ijtihad yang sesuai dengan kebutuhan zamannya, tetapi tetap pada kaidah “generasi terakhir tidak akan dapat menyusul keutamaan orang terdahulu.” Kaidah ini bersesuaian dengan perkataan ulama masa lalu seperti Abu Umar bin Al-’Ala Al-Bashri yang wafat pada 154 H, seorang ulama qiraah sab’ah dan ahli bahasa arab. Beliau mengatakan;

ما نحن فيمن مضى إلا كبقل في أصول نخل طوال

“Kita dengan orang sebelumnya hanya seperti tangkai sayuran berhadapan dengan batang kurma yang tinggi.”

Namun dengan kedudukan orang terdahulu yang jauh lebih utama, tidak menghalangi ulama-ulama kontemporer untuk menulis nasihat dan petunjuk yang dibutuhkan umat pada masanya. Mereka dijuluki dengan ulama-ulama kontemporer yang mulia, karena meningkatkan kualitas kedudukan sezamannya. Bahkan orang alim yang berdiri diatas al-haq dalam perkataan dan pengamalan akan menjadi seperti yang dikatakan oleh ahli ilmu;

ما زال يقرأ في التاريخ معتبرًا حتى رأيته في التاريخ مكتوبً

“Dia masih membaca sejarah mengambil pelajaran sampai kemudian hari aku melihatnya dia tertulis dalam sejarah.”

Seperti itulah, nabi kita shallallahu 'alaihi wassalam juga membaca sejarah para nabi sebelumnya padahal beliau lebih agung dari nabi-nabi lainnya. Beliau napak tilas jalan mereka lalu memperoleh nama yang lebih tinggi dari nabi-nabi sebelumnya. Lalu para sahabat, mereka tidak pernah melihat diri mereka melebihi Al-Kitab dan hadits, akhirnya Allah jadikan sirah mereka menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sirah Rasul shallallahu 'alaihi wassalam, perkataan sahabat dipelihara dan dikumpulkan.

Demikianlah selanjutnya pada tabiin setelah generasi sahabat. Dan tidak ada zaman kecuali bertambah didalamnya serial keimanan, ibadah, ilmu, jihad, amar ma’ruf nahi mungkar sampai hari ini. Setiap hari selalu muncul ayat-ayat Al-Quran yang diamalkan yang Allah naikkan namanya mencapai bagian dari warisan Rasul shallallahu 'alaihi wassalam dalam firman-Nya ta’ala:

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (Asy-Syarah: 4)

Orang-orang yang mewarisi kedudukan nabawi ini bertingkat-tingkat. Derajat tertinggi dimiliki oleh ulama mujahidin, mereka adalah warisan sempurna dengan pencapaian keutamaan teragung dalam ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Bahkan mereka mencapai amalan shalih paling puncak yang melampaui orang-orang utama lainnya.

Di zaman sekarang, sangat sulit mengumpulkan antara dua kedudukan tersebut; yaitu ilmu bermanfaat dan amal jihad. Sebab, ilmu memerlukan waktu untuk mencapainya, demikian pula jihad perlu waktu untuk mencapainya sampai seseorang menjadi pemimpin. Sebab itu kita temukan ahlul ilmi ketika memasuki amal jihad, menjadi tersibukan dalam jihad. Atau sebaliknya, orang yang berjihad ketika memasuki dunia ilmu menjadi tersibukkan dengan ilmu. Sedangkan orang berakal akan menyeimbangkan kedua keutamaan tersebut; ilmu dan jihad.

Maka wajib untuk mewaspadai siapa saja yang memosisikan perkara ini dengan pandangan terbalik sebagaimana banyak dilakukan oleh orang hari ini. Kita melihat ada ahlul ilmi yang mencela ahlul jihad karena sedikitnya ilmu mereka. Demikian pula kita melihat terdapat ahlul jihad yang mencela ahlul ilmi karena mereka tidak terjun berjihad. Padahal perubahan pada umat tidak akan bisa dilakukan kecuali dengan mengumpulkan dua kelompok tersebut dalam diri seseorang atau paling tidak mengumpulkan keduanya dalam sebuah front.