Submitted by admin on Thu, 08/12/2021 - 04:02

Kemudian, ayat-ayat ini dan yang semisalnya di dalam Al-Quran merupakan alarm pengingat akan rahmat Allah pada Nabi-Nya serta ampunan atas dosanya. Bahkan Allah juga menyebut tentang perbuatan Nabi yang menyinggung orang lain seperti dalam firman-Nya:

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ﴿١﴾أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ﴿٢﴾وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ﴿٣﴾أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ﴿٤﴾

“1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. 2. Karena telah datang seorang buta kepadanya. 3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). 4. Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (Abasa: 1-4)

Pula seperti firman-Nya ta’ala dalam masalah tebusan tawanan perang Badar.

لَوْلَا كِتَابٌ مِنَ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ﴿٦٨﴾

“Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (Al-Anfal: 68)

 

Menunjukkan bahwa dosa seseorang bukan menjadi alasan untuk mencelanya, sebab ayat diatas yang diungkapkan Allah adalah tentang dosa itu sendiri (bukan orangnya). Dari keterangan tersebut, apa yang dilakukan sebagian manusia dengan mencari-cari kesalahan masa lalu orang lain dan membongkar aib-aib serta dosa-dosa masa lalu para dai dan ulama merupakan metode Firaun untuk mengintimidasi Musa ‘alaihissalam. Berkata Firaun ketika Musa menemuinya:

وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang kafir pada agama kami.” (Asy-Syuara: 19)

Dengan kedalaman ilmunya Musa ‘alaihissalam menjawab dengan mengakui perbuatan tersebut dan menyatakan telah melakukan taubat. Musa menjawab:

قَالَ فَعَلْتُهَا إِذًا وَأَنَا مِنَ الضَّالِّينَ

“Berkata Musa: ‘Aku telah melakukannya sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.’” (Asy-Syuara: 20)

Allah ta’ala telah melarang melakukan perbuatan mengungkap dosa orang yang telah bertaubat, Allah berfirman:

كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ

“Begitu jugalah keadaan kamu dahulu (melakukan kesalahan), lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu.” (An-Nisa: 94)

Dosa merupakan sifat yang melekat pada manusia, dia dicela saat dosa itu ditampakkan, dilakukan terus menerus dan semakin menjadi. Apabila dosa merupakan sifat yang melekat pada manusia maka tidak diperbolehkan mencela seseorang pelaku dosa sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang melarang menertawakan sahabat yang kentut dengan keras:

لِمَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَفْعَلُ

“Mengapa kalian mentertawakan kentut yang kalian juga biasa mengalaminya.”1

Karena kentut merupakan sesuatu sifat yang melekat pada semua manusia tanpa kecuali.

Dai kepada Allah bukan malaikat, dia memiliki sejarah perjalanan kehidupan. Dia adalah manusia yang memiliki keadaan ketika lemah, lalai dan lupa. Terjatuhnya dia dalam dosa masa lalu dan perbuatan dosa yang masih dilakukan tidak mencegah untuk menyampaikan risalah dan menunaikan amanat dakwah.

Salah satu pertanda keputusasaan manusia dari rahmat Allah yaitu meninggalkan dakwah karena dosa yang ia lakukan. Sehingga menghilangkan keyakinan bahwa taubat dapat menghapus dosa-dosa sebelumnya. Pada akhirnya dia tidak mau melakukan dakwah karena terbayang-bayang dosa yang pernah dilakukannya.


  1. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.↩︎