Submitted by admin on Sun, 06/13/2021 - 10:51

Redaksi hadits:

فلما اقترأها القوم ذلت بها ألسنتهم

“Maka ketika kaum membacanya lisan-lisan mereka menjadi lembut.”

Menunjukkan atas kesungguhan mereka untuk melawan pembebanan yang dibenci dalam jiwa dan kesungguhan untuk memahami sesuatu yang tidak mereka mengerti. Ini merupakan ujian ilmu. Tetapi ujian mengamalkannya merupakan ujian yang paling berat bagi dai dan aktivis. Ketika berlalu taqdir-tadir padanya dan ia tidak mampu memahaminya. Dia tidak mampu mengambil pelajaran dari semua ujian-ujian itu.

Seperti yang terjadi pada sahabat saat terjadi perjanjian Hudaibiyah. Mereka tidak memahami makna dibalik perjanjian tersebut padahal Allah telah menyebutnya dengan fathan (kemenangan). Bahkan sabahat utama seperti Al-Faruq radhiyalahu anhu tidak memahaminya. Lalu setelah menyadari kesalahannya dan beristighfar beliau berkata:

فعملت لذلك أعمالًا

“Maka aku melakukan berbagai amalan untuk menghapus kesalahan.”

Beliau katakan setelah tunduk pada keputusan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam soal perjanjian Hudaibiyah.

Kesempurnaan ketentraman didapat dengan ketetapan ilmu dan menghilangkan penghalang-penghalangnya. Hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara:

  1. Beramal shalih dan konsisten dalam amal.
  2. Serta berusaha merengungi takdir-takdir diatas makna-makna dan iradah ilahiyah.

Manusia yang paling membutuhkan untuk memperhatikan kedua perkara tersebut adalah alim yang kuat beribadah dan mujahid yang beramal. Keduanya merupakan penyeru-penyeru dakwah, memerintah yang maruf dan melarang yang mungkar. Alim yang beribadah dan mujahid yang beramal, keduanya merupakan penggerak yang dapat memecahkan berbagai problem ditengah masyarakat baik permasalahan ilmiah maupun amal nyata.